Katanya, Semua Berawal Dari Dongeng

 

Tirai tertutup, lampu sorot meredup, tepuk tangan memenuhi rumah pertunjukan dengan panggung tujuh kali tiga meter ini. Tiket sudah terjual habis, di depan pintu masuk, sobekan tiket menyebar.

Keringat mengucur deras, nyaris tata rias para aktor menebal seperti topeng. Pemandu acara muncul dari sudut kanan panggung, lampu halogen fokus kepadanya. Di balik tirai, aktor, kru panggung, sang sutradara hingga seksi sibuk berbenah.

Bersiap untuk sesi penghormatan kepada penonton. Beberapa penonton sudah beranjak, tidak untuk keluarga maupun orang dekat penyaji pertunjukan. Boklet dilipat rapih, dimasukkan tas, kantong celana, atau bahkan dilipat kecil, diselipkan pada sela bangku.

“Terima kasih telah datang, dan menjadi bagian dari pertunjukan kami. Menghibur untuk dihibur,” kalimat singkat pemandu acara menggema.

Kami melingkar, berkemas, dan pulang. Sementara itu, rumah pertunjukkan kembali kosong, tanpa sofa, figura ataupun teras rumah. Tumpukan level, menjadi aktor yang bertahan di sisa malam.

Kling…kling…kling.

Rentetan pesan WhatsApp kuterima, tak jelas dari siapa, nomornya belum aku simpan. “Aku masukin grup ya,”, “Okeh,” “Sip,”. Belum sempat membalas, sebuah grup WA terbentuk, aku dilibatkan.

BUKAN WACANA!

Begitu nama grup WA yang, entah kenapa hurufnya, jadi gak bisa nyantai gitu. Huh. Enggan untuk cepat bereaksi, dipantau sementara, dan, sial. Beberapa nama yang tak asing, teman yang biasa mengejek, ngerjain hingga sempat membuat hati ini berdebar menjadi bagian dari grup.

Kopi hitam yang encer, dengan gula berlebih hampir habis. Chitato original, sudah setengah jalan aku kunyah. Masih belum menanggapi, atau mencoba memberikan sapaan, sekadar “Hai,”.

Seorang kawan sejawat serta sepermainan akhirnya bersuara, maklum dia admin sekaligus proklamator dari grup dengan nama yang sedikit menantang. Entah mau dibawa kemana grup ini, yang jelas sepertinya memang dibuat mendadak, dengan tempo sesingkat-singkatnya.

Seorang kawan is typing…

still typing…

and typing…

“Hi semua,” begitu kata pembuka. Kutunggu lebih dari 45 detik, tak ada kalimat lanjutan. Dan benar, seorang kawan ini memang,,, embuh sekali. Respon, positif, negatif, umpatan memenuhi wall grup dengan foto profil yang belum dipilih.

“Apa sih ini,”

“Ngapa sih kamu,”

*emote babi sambil kentut*

“Bye”

“Hi apa kabar semua,” dan beberapa emote, yang sedikit rumit untuk dijabarkan.

Grup WA yang berisi lebih dari 40 anggota, dengan seluruhnya didaulat menjadi admin. Hari berganti, tawa, kisah lalu yang pelik hingga memorable tersaji. Kadang aku tersenyum sendiri, tertawa, dan harus diakui, obrolan di grup tersebut membuatku rindu.

Sayang itu hanya bertahan selama tiga hari, selanjutnya, hanya puluhan notification, dari BUKAN WACANA! dengan foto profil anak-anak bermain grobak sodor.

Setelah berumur 14 hari, akhirnya grup ini menunjukkan belangnya. “Oh jadi ini,”, “Aku sih udah tahu, pasti ujungnya ini”, “Jadi bener,mau nih?” dan komentar paling monumental pun muncul.

“Aku left ya guys, kita gak sejalan lagi,”.

Setelah seorang kawan yang lain left, kamipun membahasnya, menertawakan, ikut prihatin dan menyayangkan kejadian itu.

“Dia ga berubah yah,” kira-kira begitu.

Dear all,

Sibuk yah pasti, semoga semua dalam keadaan baik dan bahagia. Yang sudah bekeluarga, menuju pelaminan, dimabuk cinta, single atau yang masih berharap dalam posisi digantung. Shalom!

Kapan yah kita bisa main bareng lagi, ketemu, dan proses bareng. Kangen gak sih?. Kemarin aku dan beberapa temen di sini, sempet ketemu dan ngobrol. Kayaknya asik kalo kita bisa melingkar lagi.

Tiga bulan lagi kan ada tanggal merah tuh, kumpul yuk. Gathering gitu kita. Yuk.

Pidato pertama di grup ini akhirnya muncul, dari seorang kawan yang menjadi admin pertama. Sambutan meriah, mirip seperti sambutan Pak Camat yang membuka lomba 17 Agustus-an di sebuah kampung, dengan populasi mayoritas remaja dan muda-mudi.

Aku tak merespon. Ku letakkan iPhone 7+S ku, dan bergegas bekerja. Hari keras bung. Tak bisa kita hanya, duduk, santai dan hahahihi. Matahari sudah tegak berdiri, jalanan semakin padat, dan tanggal tua rasanya kok lama sekali.

Embem belum pulang, padahal Sita sudah merengek, minta susu mamahnya. Ingin kupinjamkan punyaku, kok, malah nanti Sita menjadi. Sudah biasa, aku terlibat dalam situasi kompleks, ketika anak mu rewel, kangen susu asi ibunya. Bosan dia sama tetek sapi.

Sita yang sudah mulai tumbuh gigi, pintar sekali membuat abinya cemas. Berusaha acting berbagai tokoh, untuk menenangkan anak perempuan pertama, yang lahir saat bulan purnama kedua di tahun Ayam Api.

Embem baru saja memberi kabar, ia harus mampir apotek, untuk melihat stok obat serta mengevaluasi kinerja karyawannya. Aku lega, kepulangannya sudah pasti. Tiga jam lagi.

Sementara, jam kerjaku semankin dekat. Dan Sita, tetap nyaring dengan tangisannya. Jadi dosen kalau gak jadi peneliti ya nak, kalau kamu besar nanti. Doaku untuk Sita.

Memang, biasanya sebelum Embem berangkat, dia menyiapkan persediaan asi, entah karena sedang luput ataupun kalut menghadapi pekerjaannya, dia pun tak menyiapkannya.

Masih dua jam lagi.

Aku ambil buku cerita anak, dengan gambar yang seharusnya membuat anakku ini diam dan tertarik untuk memegangnya. Tentu belum membacanya. Sita masih satu setengah tahun.

Aku tetap berusaha memainkan tokoh yang lucu, menyenangkan, mesti keringat tambah menetes, untuk memastikan Sita tenang.

Akhirnya, Embem pulang. Pelukan hangat diberinya. Sedikit lama, dan akhirnya menangis. Dia tertekan. Teman perawat dan staf rumah sakit, tempatnya bekerja saat ini, sedang cerigis. Maklum, Embem digadang-gadang menggantikan ibu Rebekka sebagai kepala Suster di rumah sakit.

“Aku gak kuat mbul. Rese banget sih mereka,” suara serak ditemani umbel yang menempel di tengkuk kananku. “Lagi, kok ga bosen ya mereka,” balasku.

Embem mereda, “Gimana genduk, rewel yah. Aku tuh tadi bingung, dan ga tenang gara-gara ga siapin buat Sita,”.

“Ya gitu, tapi udah anteng dia. Aku kasih bukuku,”

“Sudah bisa baca Sita? kok pinter”

“Bukan buku yang itu, buku dongeng itu lho,”

“Oalah, disobek sobek lho nanti,”

“Ga apa, bukan hatiku yang terkoyak kok,”

“Mbul, please”

Keringat Embem kental terasa, aku yakin, sebentar lagi dia akan masuk masa haid-nya. Keringat kental yang sebenarnya aku terasa hangat dan lembab, apalagi kalau lagi pas mati lampu. Duh. Sesekali, aroma parfumnya merangseng ikut masuk. Tetapi, tetap saya, aroma keringat dan belakang ketiaknya, yang rasanya, membuatku malas bekerja.

Aku dan Embem menikah tiga tahun lalu. Pertemuan di sebuah klinik, ternyata resep menjadi surat cinta pertamanya untukku. Ingat betul, lipstik merah muda, dengan aroma parfum Antonio Banderas her secret gold, membuat ingusku membeku dan menyublim seketika.

“Obatnya yang paling bagus, yang mana yah mbak. Aku ga bisa fokus, kalo pilek gini,”.

“Oh ada beberapa pak, silahkan. Kayaknya tersiksa banget ya, Pak”

“Iyah mbak, ga ada ngurusin lagi,”

“Emang orang rumah kemana,”

“Belum ada Mbak,”

“Oh begitu Pak,”

Di sini yang menarik, sekitar sepuluh detik, kami saling menatap. Ini momentum, kataku.

“Makasih ya resepnya,”

“Kembali, semoga lekas pulih ya Pak,”

“Kalau masih lanjut, sakitnya enaknya beli obat yang mana lagi ya Mbak,”

“Ehm, harus diperiksa dulu donk Pak, atau kemari lagi,”

“Orang sakit bolak balik, gitu ya Mbak?”

“Sabar ya Pak, apa saya minta kontak bapak untuk memastikan keadaannya, nanti.”

“Oh, ehmm,”

“Kalo ga ini kontak saya Pak, saya tulis di resep yah,”

Itulah mengapa, resep darinya menjadi surat cinta pertama Embem buatku.

Selanjutnya, sudah bisa ditebak, berbagai manufer dan ekspansi militer digulirkan. Dan goal, kami resmi.

Yth Direktur Penerbit Kanisius

Di tempat

 

Salam budaya,

Semoga bisa dibantu.

 

Hormat saya,

Chris Mamoto and Partners.

 

 

Embem dan Keriput Langit Sore Menjelang Desember

Langit menjelang Desember terlihat tidak jelas, apalagi dari sudut utara nusantara. Aku memandang setidaknya ada keraguan langit menciptakan bentuk setiap sorenya. Entah karena migrasi suasana hati langit yang memilih tidak menentu. 

Dari kejauhan, Embem teriak, memanggil dengan suara yang bergetar. Caranya bersuara belum berubah, setidaknya beberapa purnama lalu. Waktu itu, kubacakan puisi untuknya, dia megangguk malu. 

Aku sendiri, tersipu kaku. 

Mulai saat itu, hingga sore dengan langit tak menentu ini, Embem berwujud lain. Kantung mata yang mengental, senyum tanggung yang menggantung hingga aroma keringat yang tak kukenal lagi. 

Dia bercerita, bahwa gumpalan beban, membuatnya sedemikian suram. Aku ragu, itu gumpalan beban. Mungkin gumpalan lain? Kalau begini, rasanya Embem dan pemandangan langit tak menentu ini, sama membingungkannya. 

Aku merasa dekat dengan senja, begitu juga dengan Embem. Sayangnya, senja tak pernah menyatakan secara jelas kedekatannya dengan ku, sementara Embem, pernah sekali.

Kubaca surat kabar, ditemani sajak sajak The Beatles dengan Penny Lane-nya. Katanya, musim sedang galau, La Nina penyebabnya. Di situ aku baru tahu, langit dan pemandangan yang tak menentu, dialah penyebabnya.

Segera ku telepon Embem, memberitahukan hal itu. Dia bungkam. Saat itu juga, terasa, bahwa ada guyuran air mata yang melewati punggungku. Apakah La Nina sejahat itu, bahkan Embem pun dibuatnya kacau.

Tiap sore, kucoba catat bagaimana senja tergelincir, baik dari perpaduan warna hingga berapa banyak orang yang membicarakan dia tiap sorenya. Tiap hari pula, Embem, selalu kuawasi. Kupandangi dia, lewat kitab suci tak bertuan.

Tidak seperti yang lalu-lalu, ada pihak ketiga yang ingin dilibatkan. Kali ini Rendra, lewat Empat Kumpulan Sajak-nya. Begini katanya, di jalan remang-remang ada bayangan remang-remang aku bimbang apa kabut apa orang.

Tak cukup satu bait, dia pun menambahkan, penghuni yang mengunci diri dan hati pada sepi di hati kutanya-tanya, kapan ia bunuh diri?

La Nina juga telah merusak alunan kata, dalam beberapa kalimat yang telah kulalui dalam tulisan ini. Kubaca ulang, sepertinya membingungkan. Begitulah Embem saat ini. 

“Kemarin rabu kamu bilang kelabu, eh, pas kamis kok bilang manis. Jangan sampai pas sudah ketemu jumat, jadi tamat?” Embem berkata demikian. Padahal sudah lama kita tak bersua. Bukan rindu, atau peluk yang bertemu. Malah kritik dan pertanyaan yang diramu.

Sudah senja kesekian sebelum Desember, tiada pemandangan yang menawan, dan pantas untuk kuabadikan, lalu kutampilkan dalam akun instagram-ku. Kadang aku sadar, akhir-akhir ini yang ada hanya tuntutan dan paksaan untuk Embem maupun langit senja memberi kabar gembira. 

Pada sisi lain, aku lupa bertanya, “apa kabar?”

Kalau begitu, akupun memerah. Setelah itu, menjadi biru. Akhirnya, inginnya aku menyenangkan Embem dan Senja. Entah lewat ibadah puisi atau nyanyian sumbang dengan tembang kesayangan. 

Tapi, apakah aku, langit senja, dan Embem, yakinkah tidak lagi mengerutkan dahi? Kan lucu kalau akhirnya kita semua bertanya, “Ini apa?”.

 

Cepat sembuh ya.


Panggung Yang Lain

 

Panggung dua setengah kali tiga meter. Lampu sorot merah, biru dan kuning, tak memunculkan harmoni yang manis, merah yang menjadi dominan. Tak lengkap alat musik malam ini. Dua pengiring, gitar akustik dan saksofon.

Suasana ramai, penuh sorak. Sibuk sendiri. Langkah gemetar, tak nyaman, mulai terasa dari sudut kanan panggung. Biduan malam itu, yang memilih menggunakan gaun hitam, tampak pucat.

Biduan, yang sering kusebut Ati ini, memulai pertunjukkan dengan mengucapkan salam sumbang. Suaranya tidak bulat, seperti microphone bukan teman mainnya. Sebagai seorang penyanyi, Ati sudah terbiasa menyanyikan beragam genre lagu, jazz, pop, hingga keroncong semi dangdut.

Malam minggu kali ini, Ati melantunkan tiga buah lagu. Lagu yang seharusnya diselesaikan dengan cepat, nada yang tidak meleset serta riuh tepuk tangan penonton. Tak ada satupun.

Rasa sesal di dalam hati diam tak mau pergi, haruskah aku lari dari kenyataan ini,” bait mesra Iwan Fals seakan menggambarkan gambar demi gambar dirinya malam ini.

Aku prihatin, dan rasanya ingin intervensi dalam suasana panggung di mana Ati berdiri, tidak kokoh di tangah.

Jarang sekali, tatapannya menatap penonton, dirinya lebih menikmati komunikasi dengan mata pengiring maupun alat musiknya. Tiga buah lagu, yang biasanya dituntaskan Ati, tampak sulit diatasi. Matanya berulang kali melototi teks lagu.

Kenapa, pikirku. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kali ini aku beri jarak yang panjang dengannya. Dia tahu aku ada, tempatku duduk dekat berada lampu kuning, yang menyorot sebuah lukisan dengan judul “Kemana Angin Berhembus”.

lantunan nada, suara yang keluar dari saksofon terasa hampa. Bukan fals, atau sumbang. Aku, sebagai pendengar merasa kosong. Aku yakin Ati pun merasa begitu.

Lagu pertama berakhir, kutambah satu botol beer. Beer yang biasanya terasa pahit di belakang, setelah aku menelannya, malam ini terasa tawar. Entah kenapa. Rasanya seperti menenggak soda.

Lagu kedua dinyanyikan, Ati memilih duduk. Butuh sandaran mungkin. Aku membayangkan dirinya sedang dirundung banjir, bukan banjir air. Keraguan. Kakiku semakin gelisah, sepatu boot terasa ringan, untuk dilangkahkan ke belakang panggung, untuk segera menemuinya.

“Kamu kenapa,” tanyaku. Dia tidak menjawab, bibirnya bergetar, matanya menghindar dan pergi. Kira-kira begitu ending-nya jika kudatangi dia. Kok tahu? Ya biasanya begitu.

Ati dan aku, pernah menjadi teman baik. Bertukar cerita, informasi, sharing produk elektronik terbaru hingga membahas habis berbagai koleksi parfum Calvin Klein. Yang kupilih, CK Be.

“Hanya kamu yang bilang, kalau aku tak cocok jadi seorang pendidik.” Komentar datar yang datang darinya, dengan gumpalan rasa tanya ditambah sedikit kekesalan keluar dari mulutnya, ketika waktu itu kami menikmati mie ayam tahun lalu.

Mie Ayam Pak Kumis, menjadi tempat mengisi perut sekaligus tempat diskusi paling topcer saat itu. Murah, teduh dan tentunya mie ayamnya selalu ngangenin.

Ati bilang, sudah lama dia tidak menyanyi, maklum empat tahun dia habisknya menjadi vokalis band indie. Walaupun akhirnya harus pecah kongsi, karena drummer dan sang manager band menjalin cinta. Masalah? tidak!

Sang penabuh drum, selingkuh dengan sahabat manager band. Runyam kan?

“Menyanyi sebagai hobi saja, gelar sudah panjang, manfaatkan itu saja. Tapi kalau berkatmu ada di suara serak becek itu, ya lanjutkan” Saranku pada Ati.

Tak menjawab dia, hanya tatapan tenang serta sodoran garpu dengan tancapan bakso urat. Dia tahu, aku suka itu.

Malam ini, ketika setelah setahun tidak bertemu Ati, dan dia naik panggung dengan kondisi mengenaskan seperti itu, kurasa ada yang salah. Kuyakin bukan karena bayarannya, atau pilihan lagu yang tidak tepat dengan suaranya. Dia perlu tempat sampah.

Ya, sepertinya peranku dulu belum ada yang menggantikan.

Tempat sampah, tempat bersandar, hingga tempat mengumpat kekesalan Ati kepada objek maupun subjek tertentu, menjadi jabatanku selama berteman dengannya. Profesi itu begitu bergengsi, hanya bayarannya, cukup dengan semangkuk mie ayam, double ayam plus sawi.

Lagu terakhir dilantunkan, matanya semakin enggan memandang kursi kursi yang dipadati penonton. Seketika aku tenggelam, aku masuki sebuah lorong waktu, hanya dengan satu tujuan. Untuk mengetahui, sebelum tidur malam tadi, siapa yang membuat Ati menangis?

Lagu ketiga berakhir, tepuk tangan terasa tanpa suara. Tidak ada epilog darinya. Pergi.

Lampu sorot merah, bercampur biru meredup. Lampu halogen memainkan peran. Datar.

Sudah tiga botol beer, ditambah dengan satu shot taquilla. Aku beranjak. Aksi stalking dimulai, twitter, instagram, facebook hingga Linkedin kujelajahi. Tak kutemukan juga penyebab tidak totalnya aksi panggung Ati.

Rasanya meleleh, bagaikan ice cream cone yang belum sempat dinikmati, mengalah pada teriknya hari. Begitulah kegelisahanku, tak bisa menjadi penghantar kegundahan seorang teman.

Malam ini, yang kutahu, dia tidak berada di panggungnya. Dia tahu dimana harus mencari panggung, dengan penonton yang tepat. Kali ini dia sedang menghilang.

“Daun kering tersipu angin, terlantar di sudut trotoar. Terus tersapu.” tulisku dalam status Path, disertai dengan #pathdaily, sebelum beranjak dari cafe di daerah Prawirotaman.

Semoga sempat, kutemukan panggung yang tepat, ditambah dengan penampilan biduan yang tidak sepat. Ati harus kembali menemukan panggungnya. Entah dengan lagu jazz ataupun keroncong semi dangdut.

 

Yang biasa berada, terasa mengada-ada.

 

 

 

 

 

Remang Remang & Senja (1)

 

“Setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama. Aku selalu membayangkan ada sebuah Negeri Senja, dimana langit selalu merah keemas-emasan dan setiap orang di negeri itu lalu lalang dalam siluet.” Seno Gumira Ajidarma/ Jazz, Parfum dan Insiden.

Kangkung, daun bawang dan kailan hampir layu, jika ember berisi sepertiga air tidak membasahi ujung batangnya. Sementara cabai, entah itu cabai merah ataupun rawit lebih tegar menghadapi hari. Terik dan sesak tidak membuatnya tampak ditinggalkan penggemarnya.

Ketegaran cabai tentu masih kalah dari bawang, entah merah maupun putih—yang sudah terbiasa sendiri menjauh dari kelembaban.

Kedelai yang menjamur, barang tentu enak dijadikan lauk di akhir bulan. Tempe punya banyak peran, pandai membaur. Sifat adaptifnya, bisa menjangkau kaum borjuis hingga proletar. Berbalut label kwalitet unggul, dengan proses pembuatan higienis dan berasal dari kedelai organik, nilainya berlipat.

Sisi lain, kedelai yang diinjak dengan telapak kasar pengrajin, dibumbui keringat, dan daki betis, juga laku keras dipasaran. Apalagi yang dibalut oleh daun pisang, mantab aromanya.

Satu lagi, spesies satu ini, lebih ekslusif. Dibalut dengan daun jati, dengan badan yang terbilang luas meski tipis, tempe satu ini nikmat dengan tingkat kematangan rare.

Sore itu, perutku sudah menjerit, minta diisi. Sementara untuk membeli sebungkus nasi padang, ataupun nasi campur babi tore, perut enggan menunggu lama. Untung, di dapur, ada bahan yang dapat dimasak lalu kutelan untuk membungkam suara perut.

Tumis kangkung, dan tempe goreng bumbu bawang. Cukup.

Sore itu, langit dari jendela dapur berwarna sempurna. Potensi senja dengan langit keemasan 90% terjadi. Kupastikan, masakanku tidak terlalu asin. Terlalu manis mungkin.

Rajangan cabai rawit dan cabai merah berbaris rapi, begitu juga dengan potongan bawang yang memilih mengelompok di sisi sebelahnya. Piring plastik merah, menjadi kanvasnya.

Nasi yang sudah tanak, sudah memanggil dari Rice Cooker Cosmos putih dengan list merah muda, motif bunga-bunga. Uap panas, berdesakan menuju angkasa. Pemandangan uap, seperti pada salah satu scene Harry Potter, ketika kereta uap membawanya ke sekolah penyihir kelas atas itu.

Kupersingkat cerita, tumis kangkung sudah masak, begitu juga dengan tempe goreng kwalitet sedang, dibranding menjadi kelas atas—yang kudapatkan di salah supermarket kondang di negeri ini.

Tak lama, episode langit tawar menuju keemasan dimulai. Laparku hilang, perutku memilih bungkam. Setiap sendok makanan yang masuk, kukunyah 20 kali. Kupastikan benar benar lembut. Aku memanjakan ususku.

Langit emas sore ini, sebenarnya mirip dengan senja seminggu belakangan. Matahari bulan yang sinarnya menyenangkan dilihat jika hanya dari pantulannya, cepat tenggelam—tanpa banyak drama.

Tenggelam. Aku mengganti keemasan, atau oranye atau kuning kemerahan menjadi rasa syukur. Satu edisi hari telah berlalu. Esok, sebentar lagi aku pulang. Walaupun di rumah nanti, tidak ada senja semanis ini. Prosesi bergantinya tugas matahari dan bulan, yang selalu romantis.

Satu hal yang semakin kerap kunikmati ialah aroma tumisan yang tidak hanya saat senja mencari lubang hidung, setidaknya dua kali sehari. Pertama, aroma rumit itu datang, menjelma sebagai alarm. Kedua, dia datang, menggambarkan sebuah sikap total seorang istri menyambuh suami yang lelah berpeluh bagi keluarga.

Irisan cabai, bawang, bahkan potongan kangkung ketika di rumah nanti, tidak akan serapih ini. Blocking dan tata ruang bahan masakan tidak terlalu dipusingkan sang sutradara. Layaknya pertandingan sepakbola ala Mourinho, kuncinya adalah kemenangan. Ya, masakan yang enak dan membuat gigi semangat mengunyah, jadi kunci.

Masih tiga purnama. Sebelum itu, senja yang menawan, entah dari jendela dapur atau jendela ruko-ruko pinggir pantai, akan menghiasi hari-hari. Sementara, tarian memotong kangkung, kailan, bawang dan kawan lainnya, akan lebih dramatis.

Inginnya terus berpuisi. Sayangnya, talenan kayu kecil tidak bisa melayani dan memuaskan hasratku.

Hari ini, senja keemasan tidak bercerita banyak. Tidak terlalu memberi harap, begitu juga sukacita. Dia datang dan pergi, hanya sebagai perantara, dan kepastian tidak datang dari padanya.

 

 

R

Kembali memulai kata dari ruangan empat kali tiga meter, di sudut ruangan kipas angin Cosmos mengawasi, memberi hembusan angin yang sesekali terasa tawar. Cicak, di sudut yang berhadapan dengan kipas, ikut mengawasi, menanti ada nyamuk lengah atau sekadar bocoran cerita dari mulut sang penunggu. 
Perut buncit, menahan netbook, agar tetap tenang, ketika jemari melintasi tombol-tombol huruf. Suara cicak, sesekali berkumandang. Rasanya dia lelah, santapan malamnya tak kunjung tiba. Kabel putih terjulur, sedikit berserakan, tidak juga membentuk suatu simbol. 

Pesan whatsapp masuk bergantian, tidak satupun datang permisi. Aplikasi chatting lainnya, tergolong sepi, sesekali berbunyi, untuk mengingatkan ada pesan promo yang perlu dibaca. 

Masih menyusun kata dari kamar yang sudah didiami sejak beberapa purnama terakhir. Kalau fajar menyingsing, rasanya seperti terbangun di salah satu villa yang ada di Malino. Ketika siang, terasa betul suasana hening bak mess karyawan di Perawang. Sore menghinggap, tak terlalu romantis, kecuali pemandangan langsung ke arah kaki tubuh gunung maupun bibir pantai. 

Kalau sudah malam begini, rasanya hanya satu, terbawa rindu. Kepada siapa, kenapa bisa begitu, entahlah! Sapardi tidak pernah memusingkan dimana dia meletakkan koma atau titik, meski pemujanya bingung untuk menafsirkannya. “Saya tak ingin menjadi nabi,” ucapnya, kalau tidak keliru tahun lalu.

Rindu dapat berwujud sebagai dua mata koin ataupun mata pisau. Konstruktif – Destruktif. Konstruktif, ketika dia hadir dan menghasilkan angan untuk menciptakan garis imajiner yang mampu membawa diri kepada titik “lebih baik”. Sebaliknya, rindu hanya membawa pada satu hal, kelelahan. Onani.

Rindu tak akan pernah menjadi menarik, kalau dia tidak menghadirkan gambar gambar mistis yang melewati kening. Semakin hambar, kalau dia hanya berbentuk klakson mobil atau suara knalpot RX King. Nyaring dan jelas memang, tapi?

Entah cicak di sudut kamar itu, pernah merasa rindu atau tidak. Apakah kerinduannya sebatas mengunyah sayap dan kaki nyamuk yang ringkih itu? itu naluri, bukan rindu. 

Rindu, terkadang datang karena diundang. Dia kadang gengsi untuk hadir sendiri tanpa embel-embel lain. Suara kipas itu, sejujurnya mengingatkan pada ibu, ketika terjaga, menunggu anaknya yang merasa kesakitan setelah sunat. Masih basah pelernya.

Bicara masalah rindu, tak selalu berujung sendu. Rindu bisa menjadi tema hangat jika tidak melulu terkait lawan jenis, tetapi sebuah pengalaman manis—yang baiknya terulang kembali.

Rindu sosok seperti Soekarno hadir kembali. Rindu, menikmati bakso urat, di ujung jalan menuju Stasiun Kereta Gombong. Rindu, menjadi anak kecil, yang tahu apa itu rindu, tanpa harus rumit untuk berkata “aku rindu”.

Tutup botol anggur merah berserakkan

Sebelumnya, kami bercerita ini itu

Sebelumnya lagi, kami di panggung bersama, menikmati lampu sorot berjamaah

Kala tutup botol belum terbuka, kami berjanji, tidak akan berujung mabuk

Setelah mabuk, ngudarasa menjadi cerita lucu maupun getir

Rindu.

//

Di angkringan, kamu menikmati indomie goreng dengan irisan cabai rawit

Keringat menetes, bibirmu merah basah.

Sesekali mata mencuri, menanti.

“Es Teh satu, sate usus dibakar” kataku.

Sedikit terburu, buru aku menikmati sajian pilihanku.

Aku takut, kamu keburu…

“Pulang yuk,”

Rindu.

//

Le, tangi, ora pantes yah mene durung tangi

*aroma ikan asin, suara keran menyentuh ember bulat dan suara mesin cuci bergemuruh

hemmm, jawabku

Kwe nyambut gawe kok ra niat tho

Liputanku awan bu.

Rindu.

//
Masih banyak piring yang belum dikotori dengan sumpah serapah tentang rindu. Apa daya, rindu harus berakhir karena esok minggu. Rinduku pada minggu, tak bisa hadir lewat sajian prasmanan yang tampak elok dihadirkan saat putri Sultan menikah. 

Rindu macam itu, hadir dengan cara yang ekslusif. Memuji Penciptamu.

Sengketa Kala Hujan

Aku menulis kata-kata di kala burung gereja sedang berteduh dan mengepak-kepakkan sayapnya yang basah. Di sudut tiang bangunan sekolah, dia sendiri, tak menanti dan mencari siapa-siapa.

Hujan tak kunjung henti, apalagi selagi langit masih tampak sebagai selembar kertas kosong. Siang ini, Pingkan, Susan dan Meilan terbahak-bahak, menertawakan layar iPhone.

Mati dorang, lamu terus” begitu sabda pingkan di sela tawanya.

Aku tak ikut tertawa, mereka tak mengajakku. Dari situ, aku lebih nyaman memandang Alan. Dia bersiul, seakan memberi semangat burung gereja, bahwa hujan reda sebentar lagi.

Batang pohon yang baru saja di pangkas, tak punya payung untuk melindungi diri dari tempias hujan. Walau begitu, kakinya tak bergetar, tegar.

Hariku belum habis, masih ada tiga berita hari ini. Cermin di samping kiriku, tak bisa membantu, dia sendiri sibuk mengusap air yang tak henti membasahi mukanya. Aku termenung memikirkan nanti, apakah jadi kita bersama, dinda?

Hujan tak kunjung reda, tak kulihat lagi burung gereja itu. Pingkan, Susan dan Meilan masih asik menertawakan iPhone, sembari mengusap-usapnya dengan jari telunjuk tangan kanan Susan.

Alan, masih terdengar siulnya, tapi tidak dengan wujudnya. Genangan air memenuhi lapangan, di ujung belakang halaman sekolah. siang semakin ramai, aku semakin muda. Tapi tak begitu tentang nasib kebersamaan kita, dinda.

Daun mengangguk kompak, didorong rintik hujan. Mendukungku, untuk tetap menunggu tanpa melanjutkan barisan kata ini terus tertuang.

Tiga beritaku, belum selesai. Begitu juga dengan hujan.